Info Pesantren
Sabtu, 13 Jul 2024
  • Website Resmi Pesantren Raudhatun Najah Ayo, Ngaji dan Sekolah di Pesantren Raudhatun Najah
29 November 2022

Alumni Raudhatun Najah Saweu Guree Pada Peringatan Hari Guru Nasional

Selasa, 29 November 2022 Kategori : ALUMNI

Hal yang menjadi ciri khas dan budaya akademik alumnus pesantren adalah hubungan yang tidak putus dengan guru (Guree). Para santri masih akan memberikan waktu untuk mengunjungi  atau silaturahim kepada para guru (Saweu Guree) yang telah mendidik dan mengajarkan banyak hal. Banyak yang dapat diraih saat berkunjung ke tempat guru. Senin (28/11/2022)

Ada hal yang menarik pada peringatan hari guru nasional tahun 2022. Dalam rangka menghargai dan menghormati guru, alumnus pesantren Raudhatun Najah Kota Langsa mengunjungi dan bersilaturrahmi (Saweu Guree) ke rumah Aba Wildan (Dr. Tgk. T. Wildan, MA) dan Ummu Diah (Siti Radhiah, M. Pd) selaku guru yang pernah mengajar dan mendidik meraka.

Pada kesempatan tersebut Aba Wildan menyampaikan sebuah pesan dengan berikut:

من لم يعرف الأصول حرم عن الوصول

Artinya: Siapa yang melupakan asalnya, maka sulit untuk mencapai kesuksesan.

Melalui pesan itu, Aba Wildan, ingin setiap santri, di mana pun dan kapan pun, jangan sampai melupakan guru yang dulu pernah mengajar dan membimbingnya. Hubungan guru dan murid, tidak selesai begitu saja setelah proses belajar rampung. Tapi, sampai kapan pun, hubungan ruhani akan terus terkoneksi.

Kendati jarak memisah begitu jauh, jangan sampai guru yang dulu pernah mengajarnya, hanya karena alasan sudah selesai dari interaksi belajar, dilupakan begitu saja. Dalam literatur pesantren, keberkahan menjadi taruhannya. Jika murid sudah tidak lagi ingat terhadap sang guru, keberkahan bisa berkurang, atau bahkan tidak berkah hidupnya.

Ibarat kacang yang lupa pada kulitnya. Padahal, kacang akan terbentuk menjadi kacang dalam sebuah kulit yang membungkusnya sampai menjadi betul-betul kacang yang bisa dinikmati banyak orang. Tapi, kacangnya yang bisa dimakan, sementara kulit dibuang dan menjadi sampah. Begitu pun seorang murid. Bisa memperoleh ilmu dan suatu pencapaian hidup, tidak lepas dari peran seorang guru yang dulu membekalinya ilmu dan doa setiap saat.

Dalam tradisi pesantren, salah satu upaya untuk menjaga dan memperkuat hubungan guru dan santri adalah dengan mengunjungi dan bersilaturrahmi. Saweu Guree merupakan tradisi bersilaturahim kepada Ulama. Meski seorang santri sudah tidak lagi di pesantren, ia akan tetap menjaga dan memperkuat hubungan dengan gurunya dengan tradisi Saweu Guree tersebut.

Bayangkan. Seorang Harun al-Rasyid saja, tetap menyuruh putranya untuk menghormati sang guru dengan maksimal. Bahkan, tidak cukup dengan membantu mengucurkan air untuk wudhu gurunya dengan wadah. Tapi harus dengan tangan putranya langsung.

Demikianlah, betapa penting kedudukan guru bagi seorang murid. Guru adalah orang yang berilmu. Menghormati guru, berarti menghormati ilmu itu sendiri. Salah satu bentuk penghormatan kepada guru adalah dengan tetap memuliakannya. Kapan pun dan di mana pun.

Guru tetaplah guru, dan murid tetaplah murid. Tidak ada bekas guru atau bekas murid. Secara emosional atau psikologis, hubungan antara guru dan murid akan terus terjalin. Silaturahmi atau tali asih antara guru dan murid selain sebagai sarana keberkahan, sarana saling mendo’akan, juga akan semakin meningkatkan hubungan emosional antara keduanya, menambah umur, menambah rezeki, dan akan menambah keberkahan hidup. Oleh karena itu, melalui momentum peringatan hari guru, mari kita memuliakan guru dengan bersilaturahmi dan mengeratkan tali asih kepada mereka.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar